Search

Tampilkan postingan dengan label Khazanah Keislaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah Keislaman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 September 2020

Kembali Ke Masjid

_Oleh : Mashuri Toha (Dosen IDIA Prenduan)_
Jum'at, 25 September 2020

Pada tanggal 16 September lalu, saya mengikuti pelantikan Pengurus Daerah Dewan Masjid Indonesia (PD-DMI) di Pendopo Kabupaten Pamekasan, dengan komposisi kepengurusan baru. Saya dimasukkan sebagai dewan pakar. Ini tantangan. 

Saya senang bergabung di dalamnya, berharap menjadi hamba yang selalu menggantungkan hati ke masjid. Ya, jadi 'marbot masjid' dalam makna yang luas, yaitu menjadikan masjid sebagai rumah besar umat Islam, tempat memulai dan kembalinya hajat umat, tempat ibadah yang menyenangkan, menyejukkan dan damai. 

Hari itu, Bupati Pamekasan KH. Badrut Tamam, S.Psi jadi tuan rumah acara. Usianya masih muda, tapi inovatif. Dalam sambutannya, Bupati meluruskan bahwa adanya _Islamic Centre,_ belum relevan fungsi dan cenderung salah kaprah. Pusat kegiatan umat Islam itu harusnya di masjid. Sambutannya lugas dan kontekstual. Senang punya bupati yang 'rasa kiyai-nya' masih kuat. 

Bupati menjadikan acara itu sebagai momen strategis, karena berhasil melantik imam besar masjid agung Pamekasan. Ide cerdas. Nambah poin inovasi, karena, pelantikan imam besar masjid agung adalah yang pertama dan satu-satunya di Indonesia. Jempol untuk sang Bupati. _Nyantol_ hatinya ke masjid.

Imam besar dibutuhkan, menghadapi jamaah yang multi audiensi, datang dari berbagai latar sosial, struktur dan kultur. Agenda kerjanya sudah menunggu; _recovery_ perpecahan umat pasca Pemilu ( _post-democracy_ ), pemulihan trauma sosial saat pandemi, stres sosial efek domino penurunan ekonomi, dekadensi moral, dan pemporak-porandaan akidah.

Di tengah krisis multi dimensi ini, imam besar menjadi dirigen dalam harmoni untuk _tauhidul ummah._ Locusnya ada pada tiga unsur penting, yaitu; kepemimpinan yang kuat, kebijakan stratejik dan peranserta jamaah. Bahwa: _La Islama illa bil jamaah, wala jama'ata illa bil imaroh, wala imarota illa bit tho'ah._ Modal dasar kekuatan masjid adalah ketaatan, dengan demikian _shof_ bisa diluruskan. 

Dewan masjid mengurai peta jalan, karena semakin banyaknya kesesatan, _post-truth,_ tingginya kasus kriminal, sampai pada aksi teror anjing dan penusukan ulama. Dewan masjid membangun _living ecosystem_ yang menjadikan masjid lebih bernilai bagi jamaah dan lingkungan sekitar, mampu membangun _fintech_ untuk kemandirian ekonomi umat. 

Di masjid kita tenang, setiap lima waktu kita dipanggil untuk berjumpa Allah, beribadah tanpa rasa waswas, para imam dan da'i menjadi model, sumber ilmu pengetahuan yang menyejukkan, bukan pemicu stresor, agar masyarakat tidak ambil jarak dengan masjid. 

Tetapi juga, ada perlindungan pemerintah terhadap para imam masjid dan da'i. Sempat gaduh. Walaupun kini tidak ada lagi sertifikasi da'i, pemerintah sudah merubahnya menjadi; Program Penguatan Kompetensi Penceramah Agama. 

Masjid dan sistem sosial pendukungnya memaksa perubahan. Mencari solusi untuk mendatangkan kehidupan manusia yang lebih baik. Tempat menundukkan hati, jiwa, akal, dan ruh. Masjid adalah tempat sujud, membuang kesombongan dan kemusyrikan. 

Bupati, imam besar dan dewan masjid harus berani berijtihad, karena transformasi fungsi masjid sudah dimulai sejak dari dahulu. Di zaman Rasulullah SAW, masjid dijadikan sebagai pusat pemerintahan. Masjid berfungsi sebagai lembaga pendidikan, _ngaji,_ dakwah. Dan menjadi lembaga sosial ekonomi, mengelola ZIS untuk kemaslahatan umat, lengkap dengan fasilitas kesehatan.

Rapatkan barisan, pemimpinnya sudah memanggil. Kita lihat beberapa pimpinan daerah yang 'rasa kiyai-nya' tinggi, berinisiasi membangun masjid, mere-definisi jabatan politiknya untuk umat. 

Di DKI misalnya, pak Anies Baswedan membangun masjid apung berteknologi ramah lingkungan, alokasi anggaran 50 M. Demikian juga dengan Pemprov Jabar, membangun masjid apung di atas danau, luasnya 7,2 hektare. Hebat. Yang lain bukan tidak bisa, menyusul, _masbuq._

Kini, masjid berimprovisasi dengan kebutuhan zaman, tanpa menghilangkan esensinya sebagai rumah Allah. Tempat berkumpulnya orang sholeh, memakmurkan kebajikan. Masjid adalah episentrum _khoiro ummah. _Turn back crime._ Ayo, kembalikan umat ke masjid.

 

Kamis, 30 April 2020

Masjid Agung Pamekasan Terapkan Physical Distancing Selama Pandemi Covid-19



Masjid Agung Pamekasan merupakan masjid kabupaten yang menjadi acuan dari semua masjid untuk daerah Kabupaten Pamekasan dalam penetapan waktu sholat dan imsakiyah ramadlan.
Tempat masjid yang setrategis, berada ditengah-tengah kota tidak jarang masjid agung dijadikan sebagai tempat transit oleh musafir/peziaroh untuk melaksanak sholat, apalagi pada bulan ramadlan. Pada bulan suci ramadlan tidak sedikit orang yang memilih masjid agung sebagai tempat untuk i`tikaf selama bulan ramadlan, bahkan salah satu dari jamaah yang memilih masjid agung sebagai tempat i`tikaf ada yang berasal dari desa palengaan.

Aktivitas ibadah dimasjid agung pamekasan bulan ramadlan kali ini sedikit berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya, hal ini disebabkan karena adanya pandemic covid-19 yang kemudian Kabupaten Pamekasan ditetapkan sebagai zona merah. Untuk mengantisipasi penyebaran covid19, KH. Ach. Baidawi Absar selaku Ketua Umum Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-syuhada Pamekasan mengadakan musyawarah bersama pengurus yang lain yang kemudian menetapkan untuk menerapkan physical distancing selama pandemic covid-19.

Pada saat pertama kali diterapkan physical distancing, masih ada beberapa jamaah yang tidak mau dengan hal tersebut, sehingga pihak takmir harus memberikan pemahaman dan mengarahkan supaya jamaah dapat tertib melaksanakan ibadah sesuai protokoler kesehatan. Untuk mempermudah pengaturan jamaah, pihak takmir memberikan jarak antara jamaah satu dengan jamaah yang lainnya dengan memberikan tanda silang hitam dari lakban.

Dalam penertibah shaf jamaah, KH. Ach. Hadhori (Ketua I Bidang Keagamaan) meminta Muhammad Nadir, Ketua Umum Remaja Masjid Agung Asy-syuhada Pamekasan, supaya ikut membantu mengarahkan jamaah, dan meminta kepada pengurus remas yang lain untuk aktif dalam mengarahkan jamaah supaya tetap memperhatikan physical distancing selama situasi pandemic covid19, demi kesalamatan dan kenyamanan dalam beribadah.

By. Nadir

Senin, 23 Desember 2019

Takmir Masjid Agung Asy-syuhada' Pamekasan Membimbing Perempuan Asal Pamekasan Bersyahadat


Selasa 24/12/2019. Adelia Yolanda Sukmana, perempuan kelahiran Pamekasan mengucapkan kalimat syahadat sebagai muallaf dimasjid Agung asy-syuhada' Pamekasan. 
Adelia Yolanda Sukmana menyatakan diri dengan sukarela memeluk agama Islam dan meninggalkan agama sebelumnya (kristen) dibimbing oleh Drs. KH. Ach Hadori Pengurus Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-syuhada', didampingi oleh KH Ahmad Zayyaduz Zabidi. 
Turut menyaksikan proeses pengucapan kalimat syahadat oleh Saudari Adelia pihak keluarga, ketua Remas Masjid Agung Asy-syuhada' (Muhammad Nadir), Mas Arul Pengurus MCI (Muallaf Center Indonesia) Pamekasan.
Semoga Saudari Adelia Yolanda Sukmana diberikan kesabaran dalam menjaga nikmat Iman dan Islam, sehingga menjadi muslimah yang istiqamah. Aamiin.

Oleh: Nadir






Selasa, 22 September 2015

KHUTBAH ‘IDUL ADHA 1436 H "Suri Teladan Nabi Ibrahim A.S" Di Masjid Agung As-Syuhada` Pamekasan Madura


Oleh :
Dr. H. MOHAMMAD KOSIM, M.Ag.
Dosen STAIN Pamekasan Madura
  السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
ألله أَكْبَرُألله أَكْبَرُألله أَكْبَرُألله أَكْبَرُألله أَكْبَرُألله أَكْبَرُألله أَكْبَرُألله أَكْبَرُألله أَكْبَرُكَبِيْرًا وَالحْمْدُ لله كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاإلهَ إلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَلله أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.
ألْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ هذَاالْيَوْمَ عِيْدًا لِعِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ. وَشَرَعَ الذَّبْحَ وَالتَّضْحِيَّةَ تَقَرُّبًا اِلَيْهِ لِلْمُخْلِصِيْنَ. أشْهَدُ أنْ لاإله إلاّاللهُ وَحْدَهُ لاشِرْيكَ لَه وَأشْهَدُ أنّ سَيِّدَنَا وَنبيَّنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَطْوَعُ الْخَلْقِ لِرَبِّ اْلعَالَمِيْنَ. أللهُمَّ صَلَ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلى سَيِّدِنَا وَمَوْلنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى ألِه وَأَصْحَابِه اَجْمَعِيْنَ. أمَّا بَعْدُ. عِبَادَالله. أوُصِيْكم وَإيّاَيَ بِتَقْوَىاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالى في الْقُرْأنِ الْكَرِيْمِ. أَعُوْذُ بالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بسْم الله الرحمن الرحيم. إنَّا اَعْطَيْناَكَ الْكَوْثَرْ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ.إنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأبْتَرْ.

Jamaah sholat ‘Idul Adharahi­ma­­­ku­mul­­lah.Di pagi yang penuh barakah ini, tidak ada ungkapan dan perbuatan yang le­bih pan­tas dilakukan kecuali memuji dan ber­syukur ke­pada Allah atas segala nikmat yang kita te­rima, ter­uta­ma karena kita masih diberi ke­sempatan hidup da­lam keadaan sehat dan be­riman.Betapa banyak saudara kita yang dahulu ber­sama-sama de­ngan kita atau bah­kan dahulu ting­gal se­ru­mah de­ngan kita, te­lah meninggalkan dunia ini.Mereka te­lah me­­­ning­galkan tempat beramal di dunia me­nu­ju tem­pat per­hitu­ng­an dan pembalasan amal.Kita hanya menung­gu waktu untuk me­nyusul mereka. Ka­rena itu, mari­ kita man­­fa­atkan sisa hidup ini untuk menyi­ap­kan be­kal sebanyak-banyaknya menuju akhi­­­­rat nanti. Dan sebaik-baik bekal me­nuju akhirat adalah taqwa.
اَللهُ أَكْبَرُ ألله أَكْبَرُ ألله أَكْبَرُ. لَاإلهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Jamaah sholat ‘Idul Adharahi­ma­­kumul­­lah. Kalimat tak­bir, Allāhu Akbar, Allah Maha­be­sar, me­ru­pakan pe­ngakuan bah­wa se­la­in Allah ada­lah ke­cil, lemah, dan tidak berdaya. Allāhu Akbar, Allah Ma­ha­­besar kekua­sa­an-Nya;Allāhu Ak­bar, Allah Mahabesar kasih sa­­yang-Nya; Allāhu Akbar, Allah Mahabesarpertolongan-Nya; Allāhu Akbar, Allah Maha­besar ampu­nan-Nya. Ma­ka de­ngan mengu­cap Allā­hu Akbar, segala sifat ang­kuh, ta­ka­bur, som­bong, dan sok ku­asa men­jadi tidak ber­arti.
Jamaah sholat ‘Idul Adharahima­­kumul­­lah.Se­tiap mem­­­­pe­ringati Idul Adha, sangat pen­tingkita mempe­lajari ki­sah Nabi Ibra­him as, karena banyak sekali hik­mah yang bi­sa di­contoh dari kehidupan be­liau dan ke­luar­ga-Nya. Allah ber­fir­man dalam suratal-Mumta­hanah ayat 4:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
 “Sesungguhnya telah ada teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia.”
            Beberapa teladan yang penting kita con­­toh dari kehi­du­pan Nabi Ibrahim dan ke­lu­arga-Nya adalah:
            Pertama, Nabi Ibrahim adalah contoh ayah yang suk­ses mendidik anak.Dua putra-Nya, Is­ma­il dan Ishak, men­ja­di utusan Allah.Dan dari keturunan Nabi Ismail as, lahir­lahNabi Muham­mad saw. Tentu bukan serba tiba-tiba anak keturunan be­liau terpilih men­jadi utusan Allah, tapi berkat usaha keras dan doa yang rutin dipanjatkan kepada Allah. UpayaNabi Ibrahimmemperoleh anak-anak sho­lehdi­awali dengan usaha dirinya untuk men­jadi hamba yang sholeh, karena orang tua akan menjadi teladan bagi anak-anak­nya. Usaha Nabi Ibrahim men­jadi ham­ba yang sholeh tampak dari doa beliau seperti di­­se­butkan dalam surat al-Syu’ara’ ayat 83-84:
رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ.وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الآخِرِينَ
"Ya Tuhanku, berikanlahkepadaku hikmah dan masuk­kan­lah Aku ke dalam golongan orang-orang yang sholeh.Dan jadi­kan­lah Aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.”
       Selanjutnya, selain berupaya menjadi orang tua yang sholeh, Nabi Ibrahim beru­saha mendidik anak-anaknya de­ngan aqidah yang kuat dan selaluberdoa ke­pada Allah agar diberi keturunan yang sholeh.Doa be­liau dise­but­kan dalam surat al-Shaffat ayat 100:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Tuhanku, karuniakanlahuntukku (seorang anak) yang ter­ma­suk orang-orang sholeh.”, dan dalam surat Ibrahim ayat 40:
رَبِ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ.
“Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cu­cu­­ku orang-orang yang tetap mendirikan salat.Ya Tuhan kami, perkenankan­lahdoaku".
Dalam doanya, Nabi Ibrahim memohon secara khusus agar anak keturunannya te­kun mendirikan sholat.Mengapa sholat yang diuta­ma­kan? Karena sholat yang dikerjakan dengan benar dan istiqomahakanmenjadi pencegah per­bu­a­t­­an ke­ji dan munkar, ka­re­na sho­lat yang mem­­­be­da­kan orang islam dan orang kafir, ka­­rena sholat adalah ibadah yang pertama kali akan dita­nya oleh Allah di hari kiamat.
اَللهُ أَكْبَرُ ألله أَكْبَرُ ألله أَكْبَرُ. لَاإلهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Jamaah sholat ‘Idul Adharahi­ma­­kumul­­lah,tela­dan be­ri­­kut­nya yang pen­ting dicon­toh dari keluarga Nabi Ibrahim ada­lah ke­kom­­pa­kan dalam menjalankan perin­tah Allah.Nabi Ibrahim se­bagai ayah, Siti Hajar sebagai ibu, dan Is­mail se­bagai anak, kompak saling men­dukung untuk menja­lan­kan perintah Allah.Hal ini terlihat ketika Nabi Ib­ra­him me­­­nerima perintah Allah agar me­nyembelih put­ra ter­cin­ta­nya Is­mail.Kecin­ta­an Nabi Ibrahim kepada putranya tidak sam­pai mengalahkan kecintaannya kepada Allah, tidak sam­­pai menghalangi ketaatan dan kepatuhannya ke­pa­da Allah. Siti Hajar se­bagai seorang ibu, meskipun air matanya menetes sebagai per­tanda kesedihan ketika dikabari anak­nya akan disem­be­lih, tapi de­ngan mantap berka­ta “Aku rela kalau itu me­mang perintah Allah”. Demikian pula Ismail yang masih da­lam usiaanak-anak,dengan mantapmeya­kin­kan ayah­nya agar tidak ra­gu-ragu melak­sa­nakan perin­tah Allah un­tuk menyembelih dirinya, dengan berkata:
يَا أبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ. سَتَجِدُنِيْ إنْ شَاءَاللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ
“Wahai, bapakku, kerjakanlah apa yang telah diperin­tahkan ke­pada engkau; insya Allah eng­­kau akan men­dapatiku, di an­tara orang-o­rang yang sabar.”(QSas-Shaf­fat: 102)
Karena kompaknyaayah, ibu, dan anak untuk me­lak­sa­­na­kan perintah Allah, maka ib­lis dan setan yang selalu be­r­usaha meng­gagalkan rencana penyembelihan Ismail, ga­­­­gal total.Dan ternyata perintah Allah kepada Nabi Ib­rahim untuk menyembelih putra-Nya, hanya untuk me­nguji ke­imananbeliau,apa­kah beliau bersedia mengor­bankan mi­lik­nya yang paling dicintai, untuk Allah?Dan Nabi Ibrahim lu­lus ujian se­hingga perintah me­nyem­­­belih putra-Nya di­ganti dengan seekor domba.
اَللهُ أَكْبَرُ ألله أَكْبَرُ ألله أَكْبَر.لَاإلهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَر.اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Kisah ketaatan Nabi Ibrahim dan kelu­ar­ga-Nya dalam me­lak­sanakan perin­tah Allah, mengajarkan kepa­da kita bah­­­­­wa dalam satu keluarga—suami, istri dan anak--harus sa­ling men­du­kung, saling memotivasi, dan saling meng­ingat­kan dalam berbuat baik dan me­ninggalkan yang dila­rang.Demikian pula di tingkat yang lebih luas, se­perti seko­lah dan per­kantoran, semua pihak harus saling men­dukung untuk berbuat baik sesuai aturan yang telah diten­tukan, dan harus saling me­ng­ingatkan jika terjadi perilaku menyim­pang.Jika semua unsurmemiliki semangat yang samaun­tuk berbuat yang terbaik, makaridha Allah akan selalu ber­sama kita.
Jamaah sholat ‘Idul Adharahi­ma­­kumul­­lah,di antara ma­­salah besar yang di­ha­dapi dunia pendidikan saat ini ada­­lah be­redarnyanar­koba di kala­ng­an pelajar.Pa­me­ka­santer­masuk wila­yah darurat nar­ko­ba ka­rena pere­daran ba­rang haram ini telah me­luas ke seluruh pelosok kotadan desa. Yang mengerikan ka­rena di antara targetnya adalah para pelajar, anak-anak kita.Jika hal ini dibiarkan ma­ka akan men­jadi mala­pe­taka be­sar bagi ge­nerasi kita ke de­pan, karena narkoba akan men­jadi sum­ber se­gala keja­hatan.
Ka­rena itu, se­bagai­ma­na dicontohkan ke­­luar­ga Nabi Ibra­him, mari kita saling men­­­du­kung, saling men­jaga, dan saling meng­ingat­kanagar anak-anak kita tidak terje­ru­mus kedu­nianarkoba. Orang tua tidak cu­kup menye­rah­kan pen­di­dikan anak-anak­nya ke sekolah.Orang tua harus me­mantau pe­rilaku anak-anaknya se­ti­ap saat.Karena da­lam banyak kasus, ba­nyak orang tua yang ti­dak tahu kalau anaknya te­lah menjadi pe­can­du bahkan pengedar nar­koba.
Sebagaimana di­la­­ku­kan Nabi Ibrahim dalam mendidik anak-anak-Nya, mari kita didik anak-anak kita de­ngan iba­dah sholat, karena sholat bisa membentengi anak-anak kita dari per­buatan keji dan munkar. Selain itu, orang tua dan sekolah harus sa­ling be­ker­ja­sama untuk menang­kal penga­ruh nar­koba.Demikian pu­la aparat pene­gak hu­kum dan lem­baga ter­kait harus serem­pak dan te­gas dalam mem­be­rantas narkoba.Ke­sa­tuan langkah dalam memberantas nar­­koba akan me­­mudahkan kita untuk melindungi generasi ki­ta dari am­bang kehancuran.
اَللهُ أَكْبَرُألله أَكْبَرُ ألله أَكْبَرُ.لَاإلهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ.اَللهُ أَكْبَرُوَللهِ الْحَمْدُ
Jamaah sholat ‘Idul Adharahima­­kumul­­lah, perin­tah ber­kurban kepada Nabi Ibrahim,di­syariatkan sampai seka­rang.Bagi siapa saja dari kita yang mampu, disunahkan un­tuk me­nyembelih hewan kurban, mulai iduladha sam­pai hari-haritasyrik.Tujuan berkurban adalah untuk mende­kat­kan diri ke­pada Allah; dekat dengan pe­tunjuk-Nya, dekat dengan am­punan-Nya, dekat dengan pertolongan-Nya, dan dekat dengan kasih sayang-Nya. Tapi kurban yang akandi­terima adalah yang dilandasi iman dan ikhlas. Allah ber­fir­man dalam surat al-Hajj ayat 37:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
 “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak da­pat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari ka­mu­­lah yang dapat mencapainya”.
Jamaah sholat ‘Idul Adharahima­­kumul­­lah.Mengapa pe­rin­tah berkurban manusia digan­ti dengan hewan?Pa­dahal di masa Na­bi Ib­rahim hidup, masyarakat dan para pe­ngu­asa ketika itu sudah terbiasa menjadi­kan ma­nu­sia se­bagai korban, sebagai tum­bal dan se­sa­jen untuk ber­bagai tujuan.Allah meng­ganti kur­ban manusia dengan he­wan, ka­rena Allah sangat me­nya­yangi manusia.Manusia ada­lah makhluk mulia yangsangat tidak pantas dikor­ban­kan.Ka­rena itu, jangan sam­pai ka­rena kepentingan pribadi dan am­­bisi keku­asa­an, ma­nu­sia dikorbankan.
Selain itu, pe­rintah berkor­ban dengan me­­nyem­belih bina­tang ternak juga menjadi sim­bol bahwa kita harus me­nyembelih atau meng­­hilangkan sifat-sifat binatang yang ada dalam diri kita.Sifat ra­kus, angkuh, egois, memen­ting­kan diri sendiri, suka me­langgar hukum, adalah sifat-sifat bina­tang yang ha­rus dihi­langkan dalam diri kita.
Jamaah sholat ‘Idul Adharahima­­kumul­­lah.Syari’atme­nyembelih hewan ­kurban ha­nya di hari iduladha dan ha­ri-hari tasyrik.Tapi semangat berkorban, penting kita kem­­bang­kan setiap saat; yaitumengorbankan tenaga, pi­kiran dan harta kita di jalan Allah;me­ngorbankan tenaga, pikiran dan harta kita un­tuk menolong kaum du`afa; dan mengor­bankan tenaga dan pikiran kita untuk mem­bangun masya­rakat dan bangsa lebih baik.

اَللهُ أَكْبَرُ ألله أَكْبَرُ ألله أَكْبَرُ. لَاإلهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Jamaah sholat ‘Idul Adharahima­­kumul­­lah.Mari kita me­mohon kepada Allah swt, se­mo­ga kita diberi kemudahan un­­tuk men­ja­lan­kan perintah-Nya dan menjauhi lara­ngan­-Nya.Se­moga Allah menerima iba­dah kita, meng­ampuni dosa-dosa kita, meng­ampuni do­sa-dosa kedua orang tua kita, dan mengampuni dosa-dosaumat islam yang telah mendahului kita.Mu­dah-mudahan para ja­ma­ah haji yang saat ini se­dang melaksa­na­kan ibadah di ta­nah suci men­dapat kese­ha­tan dan kemam­puan untuk melaksanakan iba­dah haji dan menda­pat haji mabrur.Mu­dah-mudahan kita yang be­lum me­nu­nai­kan iba­dah haji di­beri keku­atan oleh Allah un­tuk bisa melak­­sana­kannya.Dan mu­dah-muda­han kita ter­masuk golo­ng­an orang-orang yang ber­un­tung di dunia dan akhirat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ في الْقُرْأنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنيْ وَإيَّاكم بِمَا فِيْهِ مِنَ الايَاتِوَالذِّكْرِالحْكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ إِنَّه هُوَالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ.اَللهُ أَكْبَرُاَللهُ أَكْبَرُاَللهُ أَكْبَرُ. لَاإلهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

 الخطبة الثانية
أللهُ أَكْبَرُألله أَكْبَرُألله أَكْبَرُألله أَكْبَرُألله أَكْبَرُألله أَكْبَرُألله أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لَاإلهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ للهِعَلىَ نِعَمِهِ وَفَضْلِهِ. أشْهَدُ أنْ لإَله إلاَّ اللهُ وَحْدَه لاَ شَرِيْكَ لَه. وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُه. ألّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍخَيْرِ الْبَرِيَّةِ وَعَلى ألِه وَاَصْحَابِه وَمَنْ تَبِعَهُمْ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.أمّا بَعْدُ. عِبَادَ اللهِ. إتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتُمُوْتُنَّ إلاّوَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أنَّيَوْمَكُمْ هذَا عِيْدٌ كَبِيْرٌعَظِيْمٌ. فَاَكْثِرُواالْعِبَادَةَ وَاعْمَلُواالصَّالِحَاتِ وَلَازِمُواالصَّلاَةَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الشَّفَاعَةِ. فَقَالَ تَعَالى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا. إنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَه يُصَلُّوْنَ عَلى النَّبِيِّ يَاأيُّهَاالَّذِيْنَ أمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. أللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى ألِه وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإحْسَانٍ إلى يَوْمِ الدِّيْنِ.اَللهُ أَكْبَرُاَللهُ أَكْبَرُاَللهُ أَكْبَرُ. لَاإلهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.
أللّهُمَّ اغْفِرْلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَاوَاهِبَ الْعَطِيّاتِ وَيَاقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. ألّلهُمَّ انْصُرْناَ فَإنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَإنَّكَ خَيْرُالْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْلَنَا فَإنَّكَ خَيْرُالْغَافِرِيْنَوَارْحَمْنَا فَإنَّكَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَإنَّكَ خَيْرُالرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ. أَللّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ. أَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْغَلَاءِ وَالْوَبَاءِ وَالرِّبا وَالِزّنا وَالزَّلازِل وَالْمِحَنِ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هذَا خَاصَةً وَعَنْ سَائِرِبِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا أتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْأخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
اَللهُ أَكْبَرُألله أَكْبَرُألله أَكْبَرُ. لَاإلهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

Kamis, 16 Juli 2015

Khutbah Hari Raya Idul Fitri 1436 H / 2015 M

“ Bersihkan Jiwa Dengan Iman “
Oleh :
( KH. M. ZAINUDDIN HUSNI, SH., MH. )
Pengasuh PP. Tarbiyatul Qulub - Surabaya
Di Masjid Agung Asy-Syuhada` Pamekasan 
Pada Tanggal 17 Juli 2015

الله اكبر ٣  x الله اكبر ٣  x الله اكبر ٣  xوَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرَا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلَا لَاإِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ اَكبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ أَيَّامَ اْلاَعْيَادِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ الصَّالِحِينْ وَجَعَلَ فِيْ قُلُوْبِ اْلمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَسُرُوْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ لِلْمُسْلِمِينَ عِيْدِ الْفِطْرِ بَعْدَ صِيَامِ رَمَضَانَ, أَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ اْلمُلْكُ الْعَظِيْمُ الْاَكْبَرْ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحُمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعِ فِيْ الْمَحْشَرِ نَبِيِّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ أَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَرَ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا اْلحَاضِرُوْنَ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ, إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تِقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. الله اكبر ٣x ولله الحمد.
Ikhwanul Muslimin wal Muslimat Shalat Idul Fitri Rahimakumullah !!!
Betapa indahnya suasana dipagi hari ini, perasaan haru dan linangan air mata yang tidak dapat terbendung ketika kita sama-sama bertakbir, bertahmid mengagungkan nama-nama Allah SWT sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Karena kita dapat melaksanakan ibadah Puasa di Bulan Ramadhan sesuai dengan bilangannya.
Dalam Firman Allah SWT Surat Al-Baqarah Ayat : 185.
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ  (البقرة:١٨٥)
Artinya : ( “ Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaknya kamu (juga) mengagungkan Allah atas petunjuknya, yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur”.)
Serta dalam Kitab Hadist Jaami’ul Ahadits Juz 41 halaman 341 Riwayat Imam Thabrani.
زَيِّنُو أَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيْرِ (جامع الأحاديث جز ١٤ص١٤٣)
Artinya : “ Hiasilah Hari Raya-mu dengan Takbir “.
Ini semua adalah sebagai sarana didalam mengagungkan ALLAH dan membersihkan jiwa kita yang kotor. Yang setiap saat debu kotoran masuk kedalam diri kita.
Alllahu Akbar 3X
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah !!!.
Saat ini dan detik ini pula, sejenak marlah kita tanggalkan identitas, dan pangkat dunia, kita gunakan pakaian yang dari Allah yaitu Keimanan dan Ketaqwaan, ketulusan dan keikhlasan di Masjid Agung Asy-Syuhada’ Pamekasan ini pula kita duduk bersimpuh, kita sujud bersama kepada ALLAH sehingga tiada beda antara pengusaha dan karyawan, antara atasan dan bawahan, sipil dan militer, kaya dan miskin, yang membedakan di sini adalah kejernihan dan kebersihan hatinya serta ketaqwaannya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ (الحجرات:١٣)
Artinya : “ Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal “.(QS : Al-Hujuraat ayat 3).
Jadi diantara kita tidak ada bedanya, apa yang mau dibanggakan  kecuali Ketaqwaan dan Ketaatan Terhadap Agama yang Benar. Kita sama-sama Makhluk AlLAH SWT yang di ciptakan dari segumpal tanah dan akan kembali ke tanah.
Dalam Firman Allah Surat Al-Hijir Ayat 26 :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (الحجر:٢٦)
Artinya : “ Dan sesungguhnya kami telah ciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering yang berasal dari Lumpur hitam yang diberi bentuk “.
Serta dalam Kitab Sunan Bayhaqi Juz 10 Halaman 392 Riwayat Imam Buchari
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله غليه وسلم: كُلُّكُمْ بَنُوْ آدَمَ, وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ, لَيَنْتَهِيَنَّ قَوْمٌ يَفْخَرُوْنَ بِآ بَائِهِمْ (سنن الكبرى جز ١٠ص ٣٩٢)

Rasulullah Muhammad SAW bersabda : “ Sesungguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam di ciptakan dari Tanah, hendaknya berhentilah suatu kaum yang membangga-banggakan nenek moyangnya “.
Dengan demikian hadirin kaum Muslimin dan Muslimat Rahimakullah, sangatlah jelas kita manusia pada dasarnya tercipta dari segumpal tanah dan akan kembali ke tanah
Alllahu Akbar 3X Walillahilhamd
Ikhwanul Muslimin wal Muslimat Shalat Idul Fitri Rahimakumullah !!!
Pada saat kita bersimpuh di hadapan ALLAH seperti sekarang ni, kita teringat akan perbuatan-perbuatan dan perilaku kita dan sudah betapa banyak manusia-manusia yang telah kita kecewakan, yang telah kita remehkan dan yang telah kita rendahkan, kita sellau mementingkan diri pribadi dan golongan, tidak perduli orang lain terdholimi atau tidak.
Dasarkan diri kita wahai kaum Muslimin dan Muslimat yang hadir pada pagi ini ? betapa banyak kekhilafan dan kesalahan yang telah kita lakukan, pantaskah kita disebut orang beriman ? layakkah kita di sebut orang yang taat agama ? terlebih lagi yang paling dominan kemunafikan dan kesombongan demi kesombongan, betapa malunya diri kita, merasa diri kita yang paling hebat layaknya Supermen adanya.
Dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’ (37-38)
وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاَ (٣٧)كُلُّ ذَلِكَ كَانَ سَيِّئُهُ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوهًا(٣٧)  (الاسراء :٣٧-٣٨)
Artinya : “ Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesunggunya kamu sekalian-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Semua itu kejahatannya amat sangat dibenci di sisi Tuhanmu. Sedangkan tujuan hidup kita dari segi kacamata Agama tidak ada lain hanyalah beribadah dan beribadah “.
Firman Allah dalam Surat Addzariyat Ayat 56 :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات:٥٦)
Artinya : “ Dan Allah menciptakan Jin dan Manusia tidak ada lain hanyalah untuk beribadah kepada ALLAH “.
Agar kita menentamkan kehidupan, agar bisa menyenangkan dan menyelamatkan alam dan sekitarnya, dimana kita berada substansinya, serta apapun profesi kita, itulah ibadah dari segi Agama dan Agama sebagai bekal hidup kita.
Dengan ta’at pada Agama, Ibadah kita akan terarah. Dengan ta’at Agama, kita punya polisi rohani dalam kehidupan kita, dan dengan ta’at Agama kita akan punya moral dan etika serta perasaan dan perhatian pada orang lain di sekitar kita.
Bukan justru sebaliknya, Agama hanya di jadikan kamu flase, Agama hanya untuk menutupi aib dan kedok, serta kesalahan kita, Agama hanya seakan-akan untuk menggugurkan kewajiban, namun tidak ada efek dan tidak membekas dalam kehidupannya, padahal Agama adalah nasehat dan menasehati, sebagaimana Sabda Rasulullah :
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ (رواه مسام)
Artinya : “ Agama itu adalah Sehat “. (HR. Muslim)
  Jadi sekiranya kepingangan dalam kehidupan, berarti manusia yang salah, bukan ajaran atau agamanya yang salah.
 Alllahu Akbar 3X
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah !!!.
Baru saja kita di tinggalkan Bulan Suci Ramadhan, yang merupakan gemblengan khusus dalam kehidupan kita.
Pertanyaannya, Apakah gemblengan Bulan Suci Ramadhan, menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya ? lebih manfaat ? lebih insyaf dan lebih sadar ? sehingga kita makin dekat dan rapat kepada Allah serta sendi-sendi Agama ataukah Sebaliknya ?
Jawabannya hadirin sekalian, hanya diri kita sendiri yang tahu dan kenyataan yang akan membuktikannya ?
Hadirin Kaum Muslimin dan Muslimat Rahimakumullah !!!
Oleh karena itu ada beberapa pesan Ramadhan, yang harus kitang pegang teguh bersama selaku ummat yang taat beragama, terutama Agama Islam karena INNADIINA INDALLAHIL ISLAM.
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ (ال عمران:١٩)
Artinya : “ Agama yang di Ridhai ALLAH hanyalah Islam “.
Ada pesan moral yang harus kita terapkan dalam kehidupan yaitu TAHDZIBUN NAFSI atau kita selalu mawas diri dari nafsu yang akan menjerumuskan kita kedalam kehinaan.
Di dalam kitab Ihya’u Ulumiddin, Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali berfatwa :
Bahwa ada 4 sifat manusia yang terbawa semenjak lahir, di antaranya :
1.    Sifat manusia BAHIMIYYAH (اَلْبَهِمِيَةُ) atau sifat binatang, yang menghalalkan segala cara, tidak mempunyai rasa malu, hanya untuk mencapai tujuan dan memuaskan nafsunya, inilah yang sering terjadi pada diri kita, manusia dari zaman sampai sekarang ini. Padahal kita telah digembleng dan diasah di Bulan Suci ramadhan satu bulan penuh agar kita bisa menahan dan mengontrol serta mengendalikan segala macam bentuk nafsu terutama NAFSU BIRAHI.
2.    Sifat manusai SABU’IYAH (اَلسَّبُوعِيَةِ) yaitu rakus, sifat buas, tidak pernah merasa puas, haknya orang lain di ambil, jatahnya orang lain di kupas, halal haram tidak peduli serta sellau merasa kurang puas dan kurang puas, dalam kehidupannya hanya penuh dengan ketamakan, bahkan tidak memberikan kesempatan pada orang lain untuk berbuat, seakan-akan hanya dirinya yang paling hebat.
3.    Sifat SYAITHANIYAH (اَلشَّيّطَنِيَةُ) yaitu sifat syetan yang tentu tujuannya hanya bernafsu untuk menjatuhkan orang lain, bernafsu untuk menjerumuskan orang lain, dengan segala cara untuk mendholimi, untuk mencelakakan manusia serta masyarakat, bahkan ummat, bahkan hokum kadang kala di perjualbelikan, bahkan yang sangat menonjol dalam sifat syaithaniyah ini adalah IRI dan DENGKI sebagaimana yang pernah di lakukan oleh Iblis terhadap nabi Adam AS, tidak ada kepedulian pada orang lain, tidak ada kepedulian pada masyarakat dan rakyat, kemunafikan demi kemunafikan yang ada dalam kehidupan.
Tigas sifat manusia tersebut diatas bilamana tidak dapat menetralkan dan tidak berusaha untuk menghentikan, di manapun berada, dengan siapapun bergaul dan berkumpul, dan apapun profesinya, Yudikatif maupun Legislatif maka tidak menutup kemungkinan, selalu membikin keonaran dan merusak tatanan, inilah yang menghancurkan kehidupan masyarakat, Negara dan Bangsa, lebih-lebih bilamana jadi Pemimpin ummat atau tokoh Masyarakat, bahkan amalan dan ibadah yang di lakukan selama ini, sulit bisa sampai kepada ALLAH SWT karena kotornya jiwa, sesuai Sabda Rasulullah SAW dari Abi Sa’id :
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم : أَشَدُّ النَّاسَ عَذَابًا يَوْمَ الْقِبَامَةِ إِمَامٌ جَائِرٌ (جَامِعُ الاحاديث جز ٤ ص٤ ٢٤)
Artinya : paling pedihnya siksaan manusia di hari Kiamat yaitu pemimpin yang durhaka (tidak mengedepankan Agama) bahkan do’anyapun akan tertolak. Karena do’a yang akan diterima oleh ALLH SWT sesuai Hadist Nabi Muhammad SAW diantaranya yang diriwayatkan oleh Turmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban :
عَنْ اَبي هريرة قال: قال رسول الله صل الله عليه وسلم : ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: اَلاِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ (السنن الكبرى للبيهقي جز ٣ ص ٣٤٥)
Artinya : “ Tiga golongan, Do’a mereka tidak akan di tolak oleh ALLAH SWT. 1. Imam atau pemimpin yang adail. 2. Orang yang berpuasa hingga berbuka. 3. Do’a orang yang terdholimi “.
Kalau tiga sifat manusia yang akan mencelakakan dunia dan isinya maka juga ada satu sifat yang bisa menyelamatkan kita dunia dan akhirat yaitu :   
4.    Sifat RUBUBIYAH (اَلرُّبُوْبِيَةُ) sifat mengedepankan keimanan dan ketaqwaan serta keta’atan, ketahanan mental yang kuat tidak mudah rapuh dan tidak mudah goyah, punya pendirian yang kuat dan kokoh serta berprilaku Al-Qur’an, bahkan walaupun dirinya merasakan pahit sekalipun demi ummat dan masyarakat tetap akan di terjang, serta tidak mudah terprovokasi, dan tidak mudah terpancing emosi, kehidupannya yang ada hanyalah berupaya agar selalu bermanfaat bagi ummat dan mayarakat, karena yang di nnati siang dan malam hanyalah maut dan maut KULLU NAFSIN DZA’IQATUL MAUT (كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ) serta sifat RUBUBIYAH ini selalu memaklumi dan memaafkan tentang kekhilafan dan kesalahan orang lain.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imran Ayat 134 :
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (ال عمران:١٣۴)
Artinya : “ Dan orang-orang yang dapat menahan amarahnya serta mema’afkan (kesalahan) orang lain. Maka Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan “.
Dan juga dalam Surat Al-Maidah Ayat 13 :
فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (المئدة:١٣)
Artinya : “ Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang suka berbuat baik ”.
Karena sadar bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik ALLAH semata. Kita memang tidak sempurna, namun yang ada pada diri kita dengan gemblengan Ramadhan marilah kita sempurnakan.

KESIMPULAN DARI SEMUA : BAHWA MANUSIA TERCIPTA DARI SEGUMPAL TANAH DAN AKAN KEMBALI KE TANAH ; PENUH DENGAN KOTORAN DEBU, HANYA TA’AT TERHADAP AGAMA DAN IMAN YANG BENARLAH YANG BISA MEMBERSIHKAN JIWA.